Sebelum saya membahas tema kali ini saya ingin menyampaikan bahwa benar apa yang disampaikan Ustadz Budi Azhari bahwa kalau kita belajar dan mengerti sejarah Islam maka kita akan jelas dan mengerti peta peradaban. Sayangnya sebagian besar umat Muslim tidak ngeh tentang sejarah Islam lebih detail, padahal kalau kita mau belajar sejarah maka semua ada dalam sejarah Islam.

Dan apa yang disampaikan oleh Ustadz Budi Azhari saya buktikan sendiri dengan konsen mempelajari sejarah Islam terkait branding, komunikasi dan media planning ternyata memang benar ada semua baik di Al Qur'an maupun dalam kehidupan para nabi, mulai dari Nabi Adam sampai Rasulullah SAW termasuk kehidupan para sahabat.

Alasan utama saya sebenarnya ingin membuktikan hal itu sekaligus meneguhkan bahwa memang Islam agama yang utuh. Kita mau ngomongin apa ada semua, kita mau mempelajari apa yang sesuai dengan spesialisasi disiplin ilmu kita ada semua.

Salah satunya adalah sosok Umar bin Khattab dengan personal brandnya yaitu tegas. Personal Brand Umar bin Khattab sebagai sosok yang tegas benar - benar kuat dan masif mendapat pengakuan dari publik, baik orang kafir maupun diinternal Muslim sendiri. Dan sampai sekarang personal brand Umar bin Khattab sebagai sosok yang tegas masih mashur.

Disini kita bisa belajar dari Umar bin Khattab bagaimana dia secara konsisten mempertahankan personal brand sebagai sosok yang tegas, kedua personal brand itu menyatu dengan diri Umar bin Khattab, artinya tagline personal "tegas" bukanlah kata yang berseberangan dengan kepribadiannya tetapi menyatu dalam kepribadiannya. 

Inilah yang sering saya ulangkali katakan bahwa personal branding bukanlah rekayasa kepribadian dan itu telah dicontohkan oleh pelaku sejarah Muslim berabad - abad lamanya. Jadi kalau sekarang ada Muslim yang mencoba melakukan personal branding tetapi tidak menyatu dengan dirinya maka artinya dia tidak belajar dari sejarah Islam.

Mengapa personal brand Umar bin Khattab kuat? Selain konsisten dengan personal brand dan menyatunya brand tersebut dengan kepribadiannya, hal lainnya adalah cara Umar bin Khattab melakukan aktivasi brandingnya sebagai sosok yang tegas juga luar biasa. Dalam teori komunikasi pemasaran, aktivasi ini menjadi kunci dari proses branding.

Kalau kita melihat perjalanan hidupnya sebagaimana dikisahkan dalam berbagai literatur Umar bin Khattab melakukan aktivasi yang match dengan personal brand yang ia miliki. Bagaimana ia memutuskan perkara masjid milik Yahudi yang hendak digusur, bagaimana dia membuat kebijakan soal di internal keluarganya soal integritas, bagaimana dia memutuskan perkara soal pemerintahan dimasanya dan banyak contoh aktivasi branding Umar bin Khattab yang menurut saya sesuai dengan teori branding dizaman modern sekarang ini.

Kalau kita belajar teorinya maka disana akan kita temukan bagaimana cara melakukan aktivasi branding. Kita mengenal adanya konsep Integreated Marketing Communication (IMC) yang terdiri dari beberapa bauran, diantaranya media planning, advertising, public relation dan event. Semua tools itu saling terkoneksi satu sama lain sehingga menjadi kesatuan yang utuh dan memperjelas visualisasi seseorang.

Dan semuanya itu dilakukan oleh Umar bin Khattab secara konsisten dan sistematis. Aktivasi yang dilakukan melalui public relation misalnya, jelas sekali gaya bicara Umar terlihat berbeda dengan sahabat lainnya dan menggambarkan secara utuh bahwa Umar bin Khattab memang kuat pada personal brandnya sebagai sosok yang tegas.

Public speakingnya lalu diperkuat dengan tampilan fisiknya, gaya jalannya tegap tidak letoy. Coba andaikan gaya jalan Umar bin Khattab tidak mencerminkan sosok yang tegas maka akan menjadi bertabrakan dengan personal brand.

Alangkah hebatnya perabadan dan sejarah Islam, begitu lengkapnya sampai pada teori personal branding pun ada contohnya. Terus terang saya semakin kagum dan semangat untuk mempelajari sejarah Islam yang terkait konsentrasi saya, yaitu branding, media planning, public relation dan komunikasi pemasaran.