Ada fenomena menarik selama dua tahun terakhir saya mengamati upaya branding personal seseorang, khususnya sejumlah politisi. Fenomena menarik itu diantaranya aktivasi branding yang tidak sinkron dengan brand personal yang hendak dilakukan. Maksudnya begini, ketika seseorang berupaya melakukan branding personal sebagai sosok pemikir tetapi pada aktivasi yang dilakukan justru memperkuat personal brand seseorang yang peduli sosial.

Ada yang bertanya apakah tidak bisa ketika seseorang dibranding sebagai seorang pemikir lalu melakukan aktivitas sosial? Ya jelas boleh, hanya saja aktivitas itu bukanlah konten utama yang menjadi headline seseorang itu melainkan pelengkap dan instrumen kecil. Yang menjadi headline konten pada kasus yang sedang saya bahas ini adalah personal brand seorang pemikir.

Sebab kalau seseorang hendak dibranding sebagai seorang pemikir lalu semua instrumen diperkuat atau ditonjolkan maka ini akan membuat buram potret seseorang tersebut. Efeknya apa? Efeknya adalah khalayak menjadi bingung untuk menterjemahkan seseorang tersebut. Kasus seperti ini sering terjadi karena ketidaktahuan ting teng yang menjadi pembisik seseorang tersebut.

Fenomena kedua adalah ketika sudah merekam dan membuat video, memiliki sosial media dan membuat banner tentang dirinya menganggap bahwa branding personal sudah selesai, padahal itu masih dalam proses itupun sangat bergantung pada hal pertama yang saya dibahas di atas, yaitu apakah tool tersebut saling terkoneksi atau punya narasi masing - masing.

Apakah konten iklan terintegrasi dengan konten video, konten sosial media dan lainnya. Jika tidak maka ini akan melenceng jauh dari upaya personal branding karena tidak memperjelas gambar seseorang tersebut. Sebagian besar melupakan bahwa branding personal adalah proses maka ketika bicara proses artinya kita sedang ngomongin waktu.

Itulah mengapa branding personal itu harus dilakukan secara sistematis, terencana dan masif sehingga kita bisa menggambarkan seseorang secara jelas dan utuh. Dalam teorinya kita mengenal dengan sebutan Integreated Marketing Communication (IMC), yaitu komunikasi pemasaran yang terintegrasi.

Karena kalau tidak terintegrasi maka personal branding menjadi tidak berujung, kabur dan tidak jelas. Oleh karena itu lakukanlah branding personal dengan sistematis, terencana dan masif sehingga bisa menghasilkan personal yang jelas, karena ini adalah salah satu fungsi branding yaitu sebagai pembeda. ***