Seiring berjalannya waktu dengan perubahan sosial, gaya hidup dan teknologi maka partai politik dituntut adaptif agar mampu berkomunikasi dengan publik secara efektif. Pada era awal kemunculan sosial media beberapa tahun lalu belum banyak partai politik yang memanfaatkan teknologi informasi ini, tetapi sekarang semua partai politik memakai senjata dunia maya ini. Hal ini kemudian yang membuat arena pertempuran berubah dan semua masuk arena dunia maya ini.

Ketika semua pemain masuk ke dalam lapangan dunia maya maka otomatis akan memiliki efek apa yang disebut dengan kekacauan di dunia maya. Lagi - lagi partai politik dipaksa adaptif dengan situasi seperti sekarang ini. Jika dulu cukup masuk arena tanpa memikirkan konsep dan strategi maka sekarang arena pertempuran sudah masuk ke ruang konsep.

Artinya, kekuatan tidak lagi pada kecanggihan alat yang dimiliki melainkan bagaimana kemampuan partai politik mengcreate konsep komunikasi marketing. Sebab kalau mengandalkan kecanggihan tanpa konsen pada konsepnya maka tidak akan optimal menyentuh psikologis massa, padahal justru ini yang lebih penting ketimbang pamer kecanggihan teknologi. Jadi dalam konteks ini teknis teknologi tersebut hanya sekadar sebagai penunjang bukan hal utama yang mesti menjadi stresing.

Sayangnya, sejumlah partai politik dan politisi justru terjebak pada hal teknis ini tetapi lemah dalam konsepnya sehingga daya jangkau influencernya tidak optimal. Beberapa partai politik dan politisi lupa bahwa mereka bukanlah perusahaan teknologi yang akan menjual alat teknologi atau pamer kehebatan teknologi melainkan instrumen sosial politik.

Akibatnya pesan yang mau disampaikan tidak mampu menembus massa secara psikis selain sekadar ucapan pujian teknis terhadap teknologi tersebut, sedangkan pesan politik yang sejatinya menjadi instrumen utama justru tidak tersampaikan. Kecanggihan teknologi memang perlu tetapi jangan sampai menutupi pesan utama sebagai instrumen politik.

Ketika ini terjadi maka tidak akan ada pesan yang menjadi pembicaraan publik. Inilah yang terjadi pada sejumlah partai politik. Mereka merasa gagah dengan teknologi yang dipakai tetapi pesannya justru tidak sampai dan ini menurut saya fatal karena akan mengakibatkan pesan yang mau disampaikan tidak jelas diterima akibat tak ada konsep melainkan terjebak pada kehebatan teknologi. 

Soal konsep komunikasi marketing inilah yang sebenarnya menjadi arena, bukan soal teknis teknologi yang dipakai. Sebab kalau arena teknis maka akan terjebak pada hal teknis tetapi pesan yang mau disampaikan kabur bahkan melenceng dan tidak tampak sama sekali. Selain itu menurut saya kalau masuk arena teknis maka kemenangan jelas akan dipegang oleh mereka yang memiliki finansial memadai karena bisa memiliki keperluan teknis tersebut jauh lebih sempurna. 

Namun ketika arena pertandingan di ruang konsep maka meski secara teknis tidak begitu sempurna maka akan bisa bersaing, karena kekuatan konsep ada pada fikiran bukan teknis yang bisa dibeli dan inilah sebenarnya kekuatan utama partai politik dan para politisi. 

Yang sering tidak disadari sebagian orang adalah bahwa event politik yang dilakukan hakikatnya adalah cara untuk berkomunikasi dengan publik. Ketika bicara komunikasi maka artinya disana ada pesan yang mau disampaikan. Inilah yang disebut salah satu aktivasi branding. 

Sebenarnya publik sendiri bisa membaca secara umum pesan yang hendak disampaikan pada sebuah event politik dari tema acara. Disinilah sebenarnya partai politik dan politisi memperjelas pesan umum tersebut sehingga bisa dibaca jelas oleh publik. Bukankah ketika partai politik melakukan komunikasi ada yang mau disampaikan? Pasti ada hal yang ingin disampaikan bukan? Pertanyaan mengapa pesan itu justru tidak disampaikan? ***