Penghasilannya per hari mencapai belasan juta rupiah dari adsense facebook belum termasuk honor dari jasa endorse sejumlah produk. Menurut pengakuan Tante Lala sekali endorse satu produk ia bisa mengantongi Rp 5 juta. 

Kehadiran sosial media memang realitasnya mirip dua mata pisau, bisa membahayakan sekaligus menguntungkan. Sejumlah orang terpaksa masuk penjara gara - gara sosial media, tetapi pada bagian lain ada orang yang mendapatkan keberkahan dari sosial media, dua diantaranya adalah Tante Lala dan Pak Ribut.

Tante Lala adalah ibu rumah tangga asal Medan yang kini menjadi terkenal dan kaya gara - gara aksi live streamingnya saat mengajari anaknya tentang Pancasila. Dari sinilah ketenaran Tante Lala dimuli hingga akhirnya ia banjir endorse dan wira - wiri ke stasiun televisi dan diundang oleh sejumlah artis terkenal, diantaranya Luna Maya, Maia Estianty dan artis terkenal lainnya.

Saat diundang mereka, Tante Lala mengungkapkan bahwa sekarang ia bisa membeli mobil seharga ratusan juta dengan cash, bukan kredit. Penghasilannya per hari mencapai belasan juta rupiah dari adsense facebook belum termasuk honor dari jasa endorse sejumlah produk. Menurut pengakuan Tante Lala sekali endorse satu produk ia bisa mengantongi Rp 5 juta. 

Anda bayangkan saja kalau dalam sebulan ada ratusan produk yang ia endorse, jelas Tante Lala menjadi seorang wanita yang kaya dan terkenal. Nasib beruntung juga dialami Pak Ribut, seorang guru di Jawa Timur yang membagikan konten kehangatannya bersama murid - muridnya.

Pak Ribut bahkan menjadi tamu khusus oleh kepala daerah setempat dan banjir endorse dari sejumlah produk. Fenomena Tante Lala dan Pak Ribut dalam konteks teori Marketing Communication sangat menarik, karena inilah yang membedakan keduanya dengan konten orang lain.

Tante Lala dengan gaya Medan dan kekhasanya membuat komunikasinya berbeda dengan orang lain. Begitu pun Pak Ribut, menarik sejumlah owner untuk menggunakan jasa kedua orang ini. Bukan karena followersnya yang luar biasa, tetapi konten komunikasinya yang lain dan unik.

Inilah yang sering saya katakan bahwa pertempuran dunia maya saat ini bukanlah pada alat melainkan konsep dan konten yang dibuat. Banyak orang menggunakan alat canggih tetapi faktanya tersalip oleh dua orang ini yang bermodalkan handphone. 

Ini menjadi pelajaran penting bagi siapapun terutama Anda yang berbinis dan menggunakan sosial media sebagai platform untuk melakukan marketing. **